MAKALAH
KETELADANAN
DAN KESABARAN NABI AYYUB A.S

Disusun
Oleh:
Iman
Amirul Ramadhan(1911330064)
Dosen
Pembimbing:
Hendri
Firmansyah, M
PROGRAM
STUDI MANAJEMEN DAKWAH
FAKULTAS
USHULUDIN ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
BENGKULU
2019
KATA
PENGANTAR
Dengan nama Allah yang
maha pengasih lagi maha penyayang. Segala puji hanya ditujukan kepada Allah.
Dan salam sejahtera kepada Muhammad Rasulullah beserta segenap ahlul bait
beliau, para sahabat dan semua pengikutnya, juga termasuk kepada seluruh kaum
muslimin dan muslimat sedunia.
Berkat bimbingan Allah,
maka kami dengan segala kerendahan hati mempersembahkan kepada para pembaca
“Keteladanan dan Kesabaran Nabi Ayyub A.s”.
Mudah-mudahan makalah
ini bermanfaat bagi agama Allah dan berfaedah kepada pembaca, terutama tentang
aqidah, sehingga diridhoi oleh Allah. Semoga pula menjadi amal ibadah bagi
penulis.
DAFTAR
ISI
BAB 1.
PENDAHULUAN……………………………………1
BAB 2.
PEMBAHASAN……………………………………...2
BAB 3.
PENUTUP…………………………………………….4
BAB
1
PENDAHULUAN
Nabi
dalam bahasa Arab berasal dari kata naba. Nabi adalah seseorang laki-laki
pilihan Allah swt yang mendapatkan wahyu dari Allah swt namun tidak wajib
disebarkan kepada umatnya. Sedangkan Rasul adalah seseorang laki-laki pilihan
Allah swt. Yang mendapatkan wahyu dari Allah swt dan memiliki kewajiban untuk
menyampaikannya kepada umatnya. Mempercayai atau meyakini adanya Nabi dan Rasul
merupakan salah satu Rukun Iman, yaitu rukun Iman yang ke 4. Nabi dan rasul
memiliki sifat-sifat yang menjadi tauladan untuk umatnya. Keteladanannya patut
menjadi suri tauladan bagi umatnya dalam menjalankan kehidupan sehari-hari
BAB 2
PEMBAHASAN
A. Nabi
Ayyub A.S
Nabi Ayyub a.s adalah putra Ish bin
Ishak bin Ibrahim. Nabi Ayyub adalah seorang
yang kaya raya. Istrinya banyak,
anaknya banyak, hartanya melimpah ruah dan ternaknya tak terbilang jumlahnya.
Ia hidup makmur dan sejahtera. Walau demikian, ia tetap tekun beribadah. Segala
nikmat dan kesenangan yang dikaruniakan kepadanya tak sampai melupakannya
kepada Allah. Ia gemar berbuat kebajikan, suka menolong orang yang menderita
terlebih dari golongan fakir miskin.
Allah SWT
berfirman:
وَأَيُّوبَ
إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ.
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ
وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ
"Dan
(ingatlah kisah) Ayub ketika ia menyeru Tuhannya: ('Ya Tuhanku), sesungguhnya
aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di
antara semua penyayang.' Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami
lenyapkan penyahit yang ada padanya dan Kami kembalihan keluarganya kepadanya,
dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami
dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS.
al-Anbiya': 83-84)
Kita telah
memahami bahwa Nabi Ayub adalah hamba yang saleh dari hamba-hamba Allah SWT.
Allah SWT menginginkan untuk mengujinya dalam hartanya, keluarganya, dan badannya.
Hartanya hilang sehingga ia menjadi orang fakir setelah sebelumnya ia termasuk
orang yang paling kaya. Kemudian ia ditinggalkan oleh istrinya dan keluarganya
sehingga ia merasakan arti kesunyian dan kesendirian lalu ia ditimpa penyakit
dalam tubuhnya dan ia merasa menderita karenanya, tetapi beliau tetap sabar
menghadapi semua itu dan tetap bersyukur kepada Allah SWT.
Sakit yang
dideritanya cukup lama sehingga beliau menghabiskan waktu-waktu dan
hari-harinya dalam keadaan sendirian bersama penyakitnya, rasa sedihnya, dan
kesendiriannya. Demikianlah Nabi Ayub merasakan segi tiga penderitaan. Segi
tiga penderitaan dalam hidupnya, yaitu sakit, kesedihan, dan kesendirian. Di
saat beliau mendapat cobaan seperti itu, pada suatu hari datang pada beliau salah
satu pemikiran setan. Pikiran itu berputar-putar di relung hatinya; pikiran itu
mengatakan padanya, wahai Ayub penyakit ini dan penderitaan yang engkau rasakan
oleh karena godaaan dariku. Seandainya engkau berhenti sabar dalam satu hari
saja niscaya penyakitmu akan hilang darimu. Kemudian manusia-manusia
berbisik-bisik dan berkata: Seandainya Allah SWT mencintainya niscaya ia tidak
akan merasakan penderitaan yang begitu hebat. Demikianlah pemikiran yang jahat
itu. Setan tidak mampu untuk mengganggu seseorang kecuali dengan izin Allah SWT
sebagaimana Allah SWT tidak menjadikan cinta-Nya kepada manusia identik dengan
kesehatan mereka. Sesungguhnya Allah SWT menguji mereka sebagaimana yang
dikehendaki-Nya.
Pikiran
setan itu berputar di sekitar hati Nabi Ayub seperti berputarnya lalat di musim
panas di sekitar kepala manusia, namun beliau mampu menghilangkan pikiran ini
dan sambil tersenyum kepada dirinya beliau berkata: "Keluarlah hai setan!
Sungguh aku tidak akan berhenti bersabar, bersyukur, dan beribadah."
Akhirnya, pikiran jahat itu dengan rasa putus asa keluar dari akal Nabi Ayub.
Nabi Ayub duduk dalam keadaaan marah karena setan berani untuk mengganggunya.
Beliau membayangkan bahwa boleh jadi setan berani menggodanya dengan
memanfaatkan kesendiriannya, penderitaannya, dan penyakitnya.
Istri Nabi
Ayub datang dalam keadaan terlambat dan mendapati Nabi Ayub dalam keadaan
marah. Istrinya itu menutupi kepalanya dengan suatu kain tertutup. Istri Nabi
Ayub menghadirkan atau menghidangkan makanan yang baik untuknya. Nabi Ayub
bertanya padanya: "Dari mana engkau mendapati uang?" Nabi Ayub telah
bersumpah akan memukulnya seratus kali pukulan dengan tongkat ketika beliau
sembuh, tetapi kesabarannya sungguh sangat luas seperti sungai yang besar. Dan
di waktu sore, setelah mengetahui kehalalan makanan yang dihidangkan, beliau
pun memakannya. Kemudian Nabi Ayub keluar menuju ke gunung dan berdoa kepada
Tuhannya.
Allah SWT
berfirman:
وَاذْكُرْ
عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ.
ارْكُضْ بِرِجْلِكَ هَذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وَشَرَابٌ. وَوَهَبْنَا لَهُ
أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنَّا وَذِكْرَى لأولِي الألْبَابِ.
وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِهِ وَلا تَحْنَثْ إِنَّا وَجَدْنَاهُ
صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ
"Dan
ingatlah akan hamba Kami Ayub ketika ia menyeru Tuhannya: 'Sesungguhnya aku
diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.' (Allah berfirman): 'Hantamkanlah
kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. Dan Kami anugerahi dia
(dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka
sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang
yang mempunyai pikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka
pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesugguhnya Kami
mendapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya
dia sangat taat (hepada Tuhannya)." (QS. Shad: 41-44)
Bagaimana
kita memahami perkataan Nabi Ayub, "Sesungguhnya aku diganggu setan dengan
kepayahan dan siksaan."? Nabi Ayub ingin mengadukan kepada Tuhannya
perihal keberanian setan padanya di mana setan membayangkan bahwa ia dapat
mengganggunya. Nabi Ayub tidak percaya bahwa sakit yang dideritanya adalah
datang karena pengaruh setan.
Demikianlah
pemahaman yang sesuai dengan kemaksuman para nabi dan kesempumaan mereka. Allah
SWT memerintahkan beliau untuk mandi di salah satu mata air di gunung. Allah
SWT memerintahkannya agar beliau minum dari mata air ini. Kemudian Nabi Ayub
melaksanakan perintah ini dan mandi serta minum. Belum lama beliau minum pada
tegukan yang terakhir sehingga beliau merasakan sehat dan sembuh total dari
penyakitnya. Kemudian suhu panas dalam tubuhnya pun kembali normal seperti
biasanya. Allah SWT memberikan kepada Ayub dan keluarganya dan orang-orang yang
seperti mereka suatu rahmat dari sisi-Nya sehingga Nabi Ayub tidak kembali
sendirian. Allah SWT memberinya berlipat-lipat kekayaan dan kemuliaan dari
sisi-Nya sehingga Ayub tidak menjadi fakir.
Nabi Ayub
kembali mendapatkan kesehatannya setelah lama merasakan penderitaan dan sakit;
Nabi Ayub bersyukur kepada Allah SWT. Beliau telah bersumpah untuk memukul
istrinya sebanyak seratus pukulan dengan tongkat ketika beliau sembuh. Sekarang
beliau sembuh maka Allah SWT mengetahui bahwa beliau tidak bermaksud untuk
memukul istrinya. Namun agar beliau tidak sampai melanggar janjinya dan
sumpahnya, Allah SWT memerintahkannya agar segera mengumpulkan seikat ranting
dari bunga Raihan yang berjumlah seratus dan hendaklah beliau memukulkan itu
kepada istrinya dengan sekali pukulan. Dengan demikian, beliau telah memenuhi
sumpahnya dan tidak berbohong. Allah SWT membalas kesabaran Ayub dan memujinya
dalam Al-Qur'an sebagaimana firman-Nya:
وَخُذْ
بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِهِ وَلا تَحْنَثْ إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا
نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ
"Sesungguhnya
Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba.
Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)." (QS. Shad: 44)
BAB 3
PENUTUP
KESIMPULAN
Nabi dan Rasul adalah makhluk Allah yang
mempunyai keistimewaan. Dan keistimewaan itu dapat kita jadikan sebagai teladan
kita dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Agar apa yang kita lakukan baik
di mata Allah swt dan di ridhoiNya. Dari kisah-kisah nabi yang telah dipaparkan
diharapkan memberikan inspirasi untuk kita semua untuk tetap beristiqomah di
jalan Allah swt, agar tetap menjadi pribadi muslim yang mendapatkan syafaatnya
kelak di akhir zaman.
Dr. Amin bin Abdullah asy‐Syaqawi.
2010 . Kisah Nabi Ayyub Alaihis Salam . Islamhouse
Silsilah
Al-Ahadits Ash-Shahihah. Cetakan pertama, 1422 H. Syaikh Muhammad
Nashiruddin Al-Albani. Penerbit Maktabah Al-Ma’arif.
Comments
Post a Comment